-->

Keunikan Sejarah Rumah Adat Tradisional Bangsal Kencono Keraton Kesultanan Yogyakarta



Keunikan-Sejarah-Rumah-Adat-Tradisional-Bangsal-Kencono-Keraton-Kesultanan-Yogyakarta
Keunikan Sejarah Rumah Adat Tradisional Bangsal Kencono Keraton Kesultanan Yogyakarta  Keunikan-Sejarah-Rumah-Adat-Tradisional-Bangsal-Kencono-Keraton-Kesultanan-Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ) setingkat provinsi di Indonesia yang merupakan peleburan Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman Jawa Tengah.

Daerah Istimewa Yogyakarta DIY mempunyai beragam potensi budaya antara lain kawasan cagar budaya, dan benda cagar budaya , karya seni, sistem sosial atau perilaku sosial yang ada dalam masyarakat. Adalah Bangsal Kencono Keraton Kesultanan Yogyakarta merupakan salah satu seni budaya yang terdapat di Kesultanan Yogyakarta.

Bangsal Kencono Keraton Yogyakarta adalah rumah adat yang berbentuk pendopo. Keraton merupakan tempat tinggal raja atau ratu. Keraton ini memiliki makna dan filosofi. Filosofi kehidupan hakikat seorang manusia, alam bekerja dan manusia menjalani hidupnya, serta berbagai perlambangan kehidupan terpendam di dalamnya. Pada bagian depan Bangsal Kencono terdapat 2 patung batu Gupolo, yaitu raksasa yang memegang semacam pemukul berbentuk gada.

Sejarah Rumah Adat Bangsal Kencono Keraton Yogyakarta 

Rumah adat daerah istimewa Yogyakarta yang dikenal dengan sebutan Bangsal Kencono merupakan warisan budaya Nusantara. Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat awal mulanya merupakan negara dependen yang berbentuk kerajaan dan berubah menjadi daerah istimewa setingkat provinsi saat Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk pada tahun 1950. Peleburan Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Pakualaman berubah menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan istana yang telah ditinggali raja-raja Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Lokasi keraton Kesultanan Yogyakarta terletak di pusat kota Yogyakarta. Kompleks bangunan Keraton masih digunakan sebagai tempat tinggal Sultan dan pusat adat istiadat Kesultanan Yogyakarta yang tetap lestari hingga saat ini. Keraton Yogyakarta juga bisa dikunjungi sebagai objek wisata yang mempertontonkan bangunan tradisional, kereta kencana, pusaka kerajaan, gamelan, dan lainnya.


Oleh banyak pihak, Bangsal Kencono Keraton dianggap sebagai bangunan dengan desain terbaik
yang sudah menerapkan tata kelola ruang seperti rumah modern. Selain itu, rumah adat ini juga punya beragam keunikan dari sisi arsitekturnya maupun dari sisi nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Rumah Adat Yogyakarta Secara umum, arsitektur bangungan utama pada rumah Bangsal Kencono memiliki banyak kesamaan dengan desain rumah adat Jawa Tengah.

Atap rumah ini memiliki bubungan tinggi yang menopang pada 4 tiang di bagian tengah yang bernama Soko Guru. Material atapnya sendiri terbuat dari bahan sirap atau genting tanah.

Adapun untuk tiang dan dinding, rumah ini disusun dari kayu-kayuan berkualitas. Tiang yang biasanya dicat berwarna hijau gelap atau hitam menopang pada umpak batu berwarna hitam keemasan. Sementara lantainya dibuat dari bahan marmer dan granit dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah di sekitarnya. Kompleks rumah Bangsal Kencono sendiri tersusun atas beberapa bangunan dengan fungsinya masing-masing.

Fungsi-fungsi ruang tersebut disesuaikan dengan kegunaan rumah adat Yogyakarta ini sebagai istana kerajaan. sedikitnya Bangsal Kencono dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian depan, bagian inti, dan bagian belakang.

1. Bagian Depan Bagian depan Rumah adat Yogyakarta ini terdiri dari Gladhag Pangurakan, Alun-Alun Lor, dan Masjid Gedhe Kasultanan. Gladhag Pangurakan adalah gerbang utama yang digunakan sebagai pintu masuk ke dalam istana. Letaknya berada di utara Keraton dan terdiri dari 2 gerbang, yaitu Gerbang Gladhag dan Gerbang Pangurakan (lebih dalam).

Keduanya menggunakan sistem berlapis dan dijaga oleh prajurit kerajaan. Alun-alun Lor adalah lapangan berumput di utara Keraton. Di masa silam, bagian ini digunakan untuk penyelenggaraan beragam kegiatan dan acara kerajaan yang melibatkan rakyat, seperti upacara grebeg, upacara sekaten, watangan, rampogan macan, pisowanan ageng, dan lain sebagainya.

Saat ini alun alun lor lebih digunakan untuk konser-konser musik, rapat akbar, kampanye, digunakan untuk sepak bola warga sekitar, dan tempat parkir kendaraan. Kompleks Mesjid Gedhe Kasultanan adalah sebuah masjid kasultanan yang digunakan oleh punggawa kesultanan untuk melaksanakan ibadah sholat. Letaknya berada di barat Alun-alun utara. Masjid ini juga kerap disebut Mesjid Gedhe Kauman. Arsitekturnya berbentuk tajug persegi dengan pintu utama di sisi timur dan utara bangunan

2. Bagian Inti Bagian Inti Rumah adat Yogyakarta terdiri dari Kompleks Pagelaran, Siti Hinggil Ler, Kamandhungan Lor, Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul, Siti Hingil Kidul; Bangsal Pagelaran adalah bangunan yang khusus digunakan bagi para penggawa kesultanan saat hendak menghadap sultan ketika upacara resmi.

Kini ia lebih digunakan sebagai tempat digelarnya even-even pariwisata, religi, dan lain-lain disamping untuk upacara adat keraton. Siti Hinggil Ler letaknya berada di selatan kompleks Pagelaran. Secara tradisi bangunan ini digunakan untuk tempat pelaksanaan upacara-upacara resmi kesultanan

Kamandhungan Ler terletak di sebelah utara. Bangunan ini digunakan untuk mengadili perkara-perkara berat yang ancamannya hukuman mati. Pengadilan di bangunan dipimpin sendiri oleh Sultan sebagai hakimnya. Sekarang, Kamandhungan Lor lebih digunakan untuk pelaksanaan upacara adat seperti garebeg dan sekaten. Sri Manganti berada di sebelah selatan kompleks Kamandhungan Ler dengan dihubungkan Regol Sri Manganti.

Pada zamannya bagian ini digunakan sebagai tempat menerima tamu-tamu kerajaan. namun, sekarang ia lebih digunakan untuk menyimpan pusaka keraton yang berupa alat musik tradisional gamelan dan untuk penyelenggaraan even pariwisata keraton.

Kedhaton merupakan inti dari Keraton seluruhnya. Letaknya berada di pusat kompleks rumah adat Yogyakarta dan terdiri dari 2 bagian, yaitu Pelataran Kedhaton untuk tempat tinggal sultan, Keputren untuk tempat tinggal utama istri (para istri) dan puteri Sultan, serta Kesatriyan untuk tempat tinggal putra-putra Sultan. Kemagangan dahulu digunakan untuk penerimaan abdi-Dalem, tempat berlatih, tempat ujian, serta tempat apel kesetiaan para abdi-Dalem yang sedang magang.

Bangunan ini terletak di tengah halaman di belakang kompleks Kamandhungan. Siti Hinggil Kidul pada zaman dulu digunakan oleh Sultan untuk menyaksikan adu manusia dengan macan (rampogan), menyaksikan para prajurit yang tengah melakukan gladi resik upacara Garebeg, tempat berlatih prajurit perempuan (Langen Kusumo), dan tempat prosesi awal perjalanan upacara pemakaman Sultan yang wafat ke Imogiri. Kini, Siti Hinggil Kidul lebih digunakan untuk pagelaran seni pertunjukan umum , seperti pameran, wayang kulit, dan seni tari.

3. Bagian Belakang Bagian Belakang Rumah adat Yogyakarta terdiri dari Alun-Alun Kidul dan Plengkung Nirbaya. Alun-alun Kidul adalah alun-alun yang terletak di bagian Selatan Keraton. Ia sering pula disebut Pengkeran. Sementara Plengkung Nirbaya adalah poros utama ujung selatan keraton yang lurus menuju gerbang keluar untuk prosesi pemakaman Sultan yang wafat ke Imogiri.


Bangunan ini memiliki ukiran-ukiran yang indah pada bagian tiang penyangga atau saka sehingga menambah nilai estetikanya. Arsitekturnya dipengaruhi oleh gaya Belanda, China, dan Portugis karena pada masa itu bangsa-bangsa lain telah memasuki Kesultanan Yogyakarta. Bangunan bangsal kencono dinilai oleh banyak pihak sebagai bangunan terbaik dan telah menerapkan penataan ruang modern padahal dibangun ratusan tahun yang lalu.

Bentuk Rumah Adat Bangsal Kencono memiliki kemiripan dengan Rumah Adat Joglo Jawa tengah.

Ciri khas rumah adat Bangsal Kencono Keraton Kesultanan Yogyakarta yaitu :

Bangunan ini memiliki ukuran yang luas karena difungsikan sebagai istana kediaman keluarga kerajaan.

Arsitekturnya terpengaruh gaya Belanda, China, dan Portugis. Pengaruh agama Hindu juga terlihat pada arsitektur bangunan Bangsal Kencono.

Lingkungan Rumah adat yang asri dan terdapat sangkar burung sebagai simbol kecintaannya kepada alam.

Komplek Bangsal Kencono merupakan tempat tinggal anggota kerajaan sekaligus sebagai tempat upacara adat dan pusat pemerintahan

Demikian Keunikan Sejarah Rumah Adat Tradisional Bangsal Kencono Keraton Kesultanan Yogyakarta, semoga informasi seputar rumah adat Bangsal Kencono Keraton Kesultanan Yogyakarta ini bermanfaat, jangan lupa share di google plus dan berkomentar dan berkunjung kembali 


Keunikan Sejarah Rumah Adat Tradisional Bangsal Kencono Keraton Kesultanan Yogyakarta Keunikan Sejarah Rumah Adat Tradisional Bangsal Kencono Keraton Kesultanan Yogyakarta Reviewed by seniwisatabudaya on 8:04 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.