-->

Keunikan Sejarah Rumah Adat Bujang Jew Suku Asmat Papua Irian



Keunikan-Sejarah-Rumah-Adat-Bujang-Jew-Suku-Asmat-Papua-irian
Keunikan Sejarah Rumah Adat Bujang Jew Suku Asmat Papua Irian  Keunikan-Sejarah-Rumah-Adat-Bujang-Jew-Suku-Asmat-Papua-irian

Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua yang dikenal dengan hasil ukirannya yang unik. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu, mereka yang tinggal di pesisir pantai dan yang tinggal di bagian pedalaman. Mereka mempunyai cara hidup, struktur sosial dan ritual yang berbeda.

Di satu kampung suku Asmat biasanya dihuni kira-kira 100-1000 orang. Setiap kampung mempunyai satu rumah bujang yang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan dan banyak rumah keluarga. Rumah mereka dibangun di daerah kelokan sungai supaya mereka bisa mengetahui lebih awal jika ada serangan musuh.

Alasan disebut sebagai rumah bujang adalah karena yang tinggal di rumah itu adalah kaum laki-laki yang belum menikah. Namun demikian, rumah panjang tersebut dapat digunakan oleh seluruh penduduk di sekitarnya, terutama oleh kaum pria karena dianggap sebagai pemimpin dalam keluarga masing-masing. Biasanya, Jew atau rumah bujang ini menjadi tempat berkumpul bagi para pemuka adat dan pimpinan desa suku Asmat. Mereka mengadakan rapat desa, penentuan strategi perang, pesta adat, penyambutan tamu, dan segala kegiatan yang sifatnya tradisi di dalam rumah adat khas Asmat ini.

Rumah bujang, atau biasa disebut Jew adalah sebuah bangunan dari kayu beratapkan daun sagu atau nipah. Bangunan ini luar biasa panjangnya. Bisa mencapai hingga 50-an meter dengan lebar belasan meter. Tidak ada paku atau pasak untuk mengokohkan rumah. Hanya tali rotan dan akar yang saling menghubungkan satu sama lainnya. Di dalamnya ada perapian, senjata tradisional berupa panah, tombak untuk berburu, juga barang yang dianggap keramat dan bertuah; Noken. Yakni benda berbentuk tas dibuat dari anyaman serat tumbuhan. Tidak sembarang orang boleh menyentuh benda ini.

Jew selalu didirikan menghadap ke arah sungai. Sebagai tiang penyangga utama rumah adat, digunakan kayu besi bermotif ukiran Asmat. Jumlah pintu Jew sama dengan tungku api dan patung Mbis (patung gambaran leluhur Orang Asmat). Jumlah pintu ini juga dianggap mencerminkan rumpun Suku Asmat yang berdiam di sekitar rumah adat.

Setiap desa di suku Asmat umumnya mempunyai satu Jew di desanya. Fungsi Jew yang kurang lebih mirip balai desa membuat Jew benar-benar dibutuhkan masyarakat Asmat. Di dalam Jew, terdapat beberapa tungku yang jumlahnya menyesuaikan jumlah keluarga yang ada dalam satu desa Asmat. Bila desa tersebut memiliki 10 keluarga, maka jumlah tungku api dalam Jew tersebut adalah 10 buah. Tungku ini akan menjadi tempat tiap keluarga berkelompok apabila ada rapat besar desa dalam Jew.

Jew dibangun dengan bahan-bahan alami yang didapat dari alam. Suku Asmat percaya, bahwa leluhur mereka dan alam telah bersinergi dan menyediakan kebutuhan mereka dalam membangun Jew. Atap rumah dibuat dari daun nipah dan daun sagu, begitu juga dengan dinding yang terbuat dari anyaman daun sagu. Pondasi Jew menggunakan kayu besi yang kuat dan tahan air, mengingat suku Asmat hidup di daerah rawa dan pesisir laut. Hal lain yang unik adalah struktur dan rangka Jew yang sama sekali tidak menggunakan paku besi dalam proses pembangunannya. Suku Asmat mengandalkan tali rotan sebagai pengikat sambungan antar kayu dari struktur rangka Jew. Walau demikian, kekuatan bangunan Jew tidak perlu diragukan lagi, Jew buatan suku Asmat tetap mampu berdiri tegak sekalipun badai menerjang.

Panjang Jew pun beragam, kisarannya antara 10 hingga 10 meter. Panjang ini akan menyesuaikan jumlah tungku yang ada di dalamnya, begitu pula dengan jumlah pintu yang disediakan. Jadi, apabila keluarga dalam desa tersebut banyak, maka Jew akan semakin panjang dan memiliki banyak pintu. Ukuran lebar dan tinggi akan menyesuaikan panjang Jew, hal ini disesuaikan secara proporsional. Uniknya, semua ukuran dan proses pembangunan ini masih diatur dalam tradisi kehidupan suku Asmat hingga jaman modern seperti sekarang ini.

Bicara tentang Jew atau rumah Bujang, maka kita juga akan berbicara mengenai aturan-aturan yang terdapat dalam kehidupan suku Asmat. Keberadaan Jew yang dianggap sakral menjadi salah satu contoh dari sekian banyak aturan adat yang harus dipelajari dan ditaati oleh suku Asmat. Posisi Jew yang harus menghadap sungai, ukuran dan aturan pembuatan Jew, benda-benda keramat yang disimpan di dalam Jew (misalnya: tombak, panah berburu, atau Noken, sejenis tas anyam khas Papua), atau kepercayaan bahwa leluhur selalu menjaga Jew adalah beberapa contoh aturan serta tradisi yang memaknai berdirinya sebuah Jew.

Hampir semua aspek kehidupan suku Asmat terkait dengan keberadaan Jew di setiap desa. Segala aturan dan sistem kehidupan setiap desa dalam suku Asmat dimulai dari dalam Jew. Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya Jew bagi suku Asmat. Selain itu, tradisi Jew sangat perlu kita lestarikan karena sarat akan nilai-nilai kehidupan yang dapat dipelajari sebagai kekayaan bangsa Indonesia hingga generasi masa depan nanti.

Demikian Keunikan Sejarah Rumah Adat Bujang Jew Suku Asmat Papua , semoga bermanfaat  dan jangan lupa berkomentar dan berkunjung kembali 


Keunikan Sejarah Rumah Adat Bujang Jew Suku Asmat Papua Irian Keunikan Sejarah Rumah Adat Bujang Jew Suku Asmat Papua Irian Reviewed by seniwisatabudaya on 3:55 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.