-->

Keunikan Rumah Adat Tradisional Boyang Suku Mandar Mamuju Sulawesi Barat



Keunikan-Rumah-Adat-Tradisional-Boyang-Suku-Mandar-Mamuju-Sulawesi-Barat
Keunikan Rumah Adat Tradisional Boyang Suku Mandar Mamuju Sulawesi Barat Keunikan-Rumah-Adat-Tradisional-Boyang-Suku-Mandar-Mamuju-Sulawesi-Barat

Sulawesi Barat adalah propinsi pemekaran Sulawesi Selatan dengan ibukota Mamuju, wilayahnya meliputi, 5 kabupaten yaitu, kabupaten Mamuju, kabupaten Majene, kabupaten Polewali Mandar, kabupaten Mamasa dan kabupaten Mamuju Utara.

Sulawesi Barat letak geografisnya berada pada posisi silang antara Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah, dan berhadapan langsung dengan Selat Makassar sebagai jalur pelayaran Nasional dan International.

Masyarakat Sulawesi Barat terkenal bermata pencaharian sebagai pelaut dengan perahu sandeq mereka menjelajah ke seluruh wilayah nusantara hingga ke Malaysia dan Australia.

Sulawesi barat memiliki beberapa suku yang mendiami daerah tersebut, salah satunya adalah suku Bangsa mandar yang terbilang dalam penduduk asal diprovinsi tersebut. Ditambah lagi dengan suku bugis, makasar dan juga suku toraja yang mempunyai peran yang sama dengan suku bangsa mandar.

Masyarakat Suku-Suku di Sulawesi Barat memiliki kemiripan budaya  pada bentuk rumah, bahasa, pakaian serta upacara adat, khususnya suku Mandar sebagai suku mayoritas di Sulawesi Barat.

Tersebutlah Rumah adat Boyang suku Mandar  sebgai rumah adat khas Provinsi Sulawesi Barat
yang mana masyarakat Mandar mulai membangun sebuah pemukiman yang terdiri dari boyang-boyang, sebagai tempat tinggal mereka.

Terdapat dua jenis boyang yang dibangun oleh masyarakat Mandar, yaitu boyang adaq dan boyang beasa. Boyang adaq adalah tempat tinggal untuk kaum bangsawan, sedangkan boyang beasa merupakan tempat tinggal bagi rakyat biasa.

Perbedaan utama dari kedua bangunan itu terletak pada ornamen yang ada di seluruh bagian rumah. Ciri yang dimiliki boyang adaq, di antaranya memiliki tumbaq layar (penutup bubungan) yang bersusun tiga sampai tujuh tumpuk.

Selain itu boyang adaq memiliki dua tangga bersusun, berjumlah tiga / 3 anak tangga dan sebelas / 11 anak tangga.

Sementara ciri yang dimiliki boyang beasa tidak semegah boyang adaq, karena masing-masing hanya memiliki satu tumpuk atap dan satu susun anak tangga.

Bagian Rumah Adat Boyang

Boyang berbentuk rumah panggung dengan konsep tiga susunan.
1. Ruangan pertama dinamakan tapang, yaitu susunan paling atas yang meliputi atap dan loteng.

2. Ruangan kedua dinamakan roang hayang, yaitu ruangan yang ditempati oleh penghuni rumah untuk melakukan segala aktivitasnya.

3. Ruangan  ketiga dinamakan naong boyang yang letaknya paling bawah.

Setiap bagian rumah juga terdiri dari tiga petak, yang oleh masyarakat lokal disebut tallu lotang. Petak pertama berada paling depan disebut samboyang,
Petak kedua berada di tengah disebut tangnga boyang, dan
Petak ketiga berada di belakang disebut bui lotang.

Pembagian rumah menjadi tiga susun dan tiga petak mencerminkan ungkapan  Suku Mandar, yang berbunyi “da dua tassisara, tallu tammallaesang”, artinya “dua tak terpisahkan, tiga saling membutuhkan”.

Slogan Suku Mandar tersebut mencerminkan konsepsi orang Mandar mengenai hukum dan demokrasi, sedangkan istilah tiga saling membutuhkan mencerminkan konsepsi orang Mandar mengenai aspek ekonomi, keadilan, dan persatuan.

Rumah-rumah penduduk, baik boyang adaq maupun boyang beasa menggunakan atap rumbiah, karena bahan itu banyak tersedia dan mudah didapatkan. Sedangkan sekarang ini sudah banyak rumah yang menggunakan atap seng. Bagian atap rumah dapat memberikan identitas dari pemiliknya.

Setiap atap biasanya memiliki penutup yang sering dipasang ukiran bunga melati. Di bagian ujung atap akan ditemukan ukiran burung atau ayam jantan. Di bagian bawah atap akan ditemukan sebuah ruangan yang diberi nama tapang, berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan barang-barang yang jarang digunakan.

Dahulu, tapang digunakan untuk ruang tidur sementara bagi perempuan yang sebentar lagi akan menikah. Ia ditempatkan di sana agar tidak dapat kabur dan menodai harga diri keluarga.
Ruangan utama boyang digunakan untuk menerima tamu, tempat tidur tamu bila sedang bermalam, tempat pelaksanaan kegiatan yang dilakukan di dalam rumah, seperti hajatan, dan juga sebagai tempat membaringkan jenazah sebelum dikuburkan.

Jika melihat fungsinya yang sangat penting itu, maka ruangan tersebut menjadi fokus perhatian pemiliknya untuk selalu menjaga kebersihan dan kerapian ruangan itu. Oleh karenanya, aktivitas keluarga tidak banyak dilakukan di sana, mereka memiliki ruangannya tersendiri.
Ruangan paling belakang dari boyang digunakan sebagai tempat berkumpul para gadis. Ruangan tersebut dianggap sebagai ruangan paling aman dari gangguan apapun.

Ragam Hias Rumah Adat Boyang Suku Mandar

Suatu bangunan rumah ”boyang” tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi memiliki nilai dan makna tersendiri sesuai dengan adat istiadat masyarakat tradisional Mandar. Olehnya itu, suatu rumah tradisional memiliki ciri khas terutama pada tipologi, interior/eksterior, dan ornamen yang ada didalamnya.

Pada umumnya rumah tradisional, baik rumah bangsawan maupun rumah orang biasa di tana Mandar, memakai ”ragam hias ornamen”. Pada bagian atap, dinding, plafon dan sebagainya. ”Ornamen” selain berfungsi sebagai hiasan atau ornamen, juga berfungsi sebagai identitas sosial, dan makna-makna budaya dalam masyarakat. Corak “ornamen” umumnya bersumber dari alam sekitar manusia seperti flora, fauna, gambaran alam, agama dan kepercayaan namun tidak semua flora, fauna dan sebagainya dapat dijadikan corak “ornamen”.

Demikian Keunikan Rumah Adat Tradisional Boyang Mandar Sulawesi Barat, semoga bermanfaat dan jangan lupa berkomentar dan berkunjung kembali 


Keunikan Rumah Adat Tradisional Boyang Suku Mandar Mamuju Sulawesi Barat Keunikan Rumah Adat Tradisional Boyang Suku Mandar Mamuju Sulawesi Barat Reviewed by seniwisatabudaya on 8:31 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.