-->

Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Amungme Berasal dari Papua



Keunikan-Sejarah-Adat-Istiadat-Budaya-Suku-Amungme-Berasal-dari-Papua
Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Amungme Berasal dari Papua Keunikan-Sejarah-Adat-Istiadat-Budaya-Suku-Amungme-Berasal-dari-Papua

Adat Istiadat Suku Amungme - Suku Amungme adalah suku bangsa yang bermukim didalam wilayah desa Kwamki, sebagai bagian wilayah administratif Mimika Timur, dan grup lainnya bermukim di lembang Arowandap dan Alama yang termasuk Kecamatan Akimuga.

Amungme berasal dari 2 kata, Amung artinya utama dan me artinya manusia. Jadi pengertiannya mereka adalah manusia utama. Menurut cerita dari para leluhur mereka, suku Amungme berasal dari sebuah gua yang sekarang disebut Lembah Baliem atau Mepingama

suku amungme  terbagi kelompok orang dengan populasi sekitar 17.700 orang yang tinggal di dataran tinggi provinsi Papua dari Indonesia. Bahasa mereka disebut Dhamal.

Keyakinan tradisional masyarakat Amungme yaitu animisme. Orang-orang Amungme tidak memiliki gagasan tentang “dewa” yang terpisah dari alam di mana roh-roh dan alam adalah satu dan sama.[2]
Mereka mempraktekkan pertanian berpindah, melengkapi mata pencaharian mereka dengan berburu dan meramu. Amungme sangat terikat dengan tanah leluhur mereka dan menjadikan pegunungan sekitarnya adalah tempat yang disucikan.

Mata Pencaharian

Masyarakat suku Amungme mempunyai kebiasaan berburu dan bercocok tanam. Ini dikarenakan kareba lokasi berdiam suku amungme memang penuh flora dan fauna yang berlimpah, diantaranya babi hutan, burung kasuari, burung mambruk, kakaktua dan lain-lain. banyak juga di antara mereka telah bekerja di kota sebagai pedagang, pegawai maupun karyawan swasta.

Kepercayaan

Suku Amungme memiliki kepercayaan bahwa mereka adalah anak pertama dari anak sulung bangsa manusia, mereka hidup disebelah utara dan selatan pegunungan tengah yang selalu diselimuti salju yang dalam bahasa Amungme disebut nemangkawi (anak panah putih). Suku Amungme menggangap bahwa mereka adalah penakluk, pengusa serta pewaris alam amungsa dari tangan Nagawan Into (Tuhan). Kerasnya alam pegunungan membuat karakter masyarakat amungme menjadi keras, tidak kenal kompromi, adil dan jantan. Selain itu Gunung yang dijadikan pusat penambangan emas dan tembaga oleh PT. Freeport Indonesia merupakan gunung suci yang di agung-agungkan oleh masyarakat Amungme, dengan nama Nemang Kawi. Nemang artinya panah dan kawi artinya suci. Nemang Kawi artinya panah yang suci (bebas perang] perdamaian.

Bahasa

Suku Amungme memiliki dua bahasa, yaitu Amung-kal yang dituturkan oleh penduduk yang hidup disebelah selatan dan Damal-kal untuk suku yang menetap di utara. Suku Amungme juga memiliki bahasa simbol yakni Aro-a-kal. Bahasa ini adalah bahasa simbol yang paling sulit dimengerti dan dikomunikasikan, serta Tebo-a-kal, bahasa simbol yang hanya diucapkan saat berada di wilayah yang dianggap keramat.

Senjata tradisional

Karena kebiasaan mereka berburu, Banyak senjata yang digunakan oleh masyarakat Amungme dalam bertahan hidup, seperti halnya pisau belati yang merupakan senjata tradisional. Selain itu mereka juga sering menggunakan tombak serta panah untuk berburu.

Ilmu Pengetahuan

Ilmu yang mereka miliki kebanyakan diturunkan dari pewaris dan nenek moyang merekatermasuk berburu dan bertani. Namun kian lama, mereka juga mempelajari ilmu asing diluar suku mereka, terbukti dengan mapannya sebagian dari mereka yang hidup di kota.

Kesenian

Lagu purba Suku Amungme yang mungkin sudah tidak dipahami lagi oleh orang Amungme generasi sekarang. Misalnya la­gu purba yang syairnya Anga­ye-angaye, No emki un­taye.
Noken,yaitu sejenis tas terbuat dari akar tumbuhan/rotan.
Tifa adalah alat musik tradisional papua.

Tidak banyak seni rupa yang dimiliki oleh suku ini, kebanyakan mereka hanya memiliki seni adat dan budaya itu sendiri, misalnya Salah satu keunikan suku Amungme adalah dengan adanya upacara tradisional yang dinamakan dengan Bakar Batu.

Tradisi ini merupakan salah satu tradisi terpenting masyarakat suku amungme yang berfungsi sebagai tanda rasa syukur, menyambut kebahagiaan atas kelahiran, kematian, atau untuk mengumpulkan prajurit untuk berperang. Persiapan awal tradisi ini masing - masing kelompok menyerahkan hewan babi sebagai persembahan, sebagain ada yang menari, lalu ada yang menyiapkan batu dan kayu untuk dibakar.

Proses ini awalnya dengan cara menumpuk batu sedemikian rupa lalu mulai dibakar sampai kayu habis terbakar dan batu menjadi panas. Setelah itu, babi yang telah di persiapkan tadi dipanah terkebih dahulu. Biasanya yang memanah adalah kepala suku dan dilakukan secara bergantian. pada Tradisi ini ada pemandangan yang cukup unik dalam ritual memanah babi. Ketika semua kepala suku sudah memanah babi dan langsung mati, pertanda acara akan sukses dan bila tidak babi yang di panah tadi tidak langsung mati, diyakini acara tidak akan sukses.

Kegiatan bermasyarakat

Salah satu suku papua yang sering kali dilingkupi oleh konflik dengan penguasa baru tanah papua yang hanya menginginkan kekayaan alamnya saja ini masih memepertahankan beberapa kebudayaan dalam kegiatan atau kehidupan bermasyarakat. Beberapa kegiatan dan kebiasaan yang masih dipertahankan sampai saat ini adalah teknik pembuata api menggunakan kayu. Kayu yang digunakan biasanya adalah kayu rotan, bambu hutan, dan kayu emil kamil.

Selain itu, harta yang diserahkan dalam proses perkawinan berupa babi, kulit biak, dan uang tunai yang jumlahnya sangat fantastis. Pakaian adat dari suku amungme adalah koteka dari buah labu dan kulit kayu. Dalam proses jual beli juga masih dikenal cara cara traditional yakni berupa barter. Selain itu, karena mata pencarian utama suku amungme adalah berburu, maka ada beberapa alat yang digunakan untuk berburu seperti panah dan anak panahnya (mangi) , tongkat (putol), tombak (kowang)dan kampak batu(pop me).

Kekerabatan

Secara tradisional masyarakat Amungme terbagi menjadi dua bagian. Dalam istilah antropologi dikenal dengan nama paroh (moieties). Paroh pertama adalah Mom, paroh kedua adalah Magai.
Lemasa adalah salah satu Lembaga Adat Suku Amungme yang berkedudukan di Timika, Papua. Lemasa ini didirikan pada tahun 1994.

Ada beberapa faktor yang membuat Amungme runtuh antara lain :

Kepemimpinan Amungme;

para elite-elite Amungme tidak lagi netral dan berpikir tentang kesejahteraan masyarakat. Para elite Amungme berpikir tentang kepentingan masing-masing. Segala persoalan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat dibiarkan begitu saja sehingga dampak buruk terhadap masyarakat semakin besar. Para elite Amungme sudah terikat oleh para kapitalis modern dan pemerintah daerah dengan segala kepentingan. Pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, politik masyarakat tidak begitu diperhatikan. Peluang-peluang yang besar untuk masyarakat tidak digunakan sebagaimana mestinya. Perang suku dan semua gejolak sosial tidak diantisipasi dengan baik. MoU antara masyarakat Amungme dengan PT. Freeport Indonesia adalah peluang besar untuk pengembangan dan penguatan ekonomi bagi masyarakat Amungme tetapi Amungme tidak dimanfaatkan secara baik sehingga beberapa waktu terakhir ini sekelompok masyarakat melaporkan ke pengadilan untuk melakukan gugatan.

Tekanan Sesama Amungme;

Amungme yang harus menjadi sahabat bisa menjadi lawan. Hal ini sangat jelas dengan pengelolaan dana 1%, pengelolaan LEMASA (Lembaga Masyarakat Amungme) dan juga menyikapi pemberian Dana Trust Fun. Amungme diluar 3Desa menyoroti ini dengan luar biasa bahkan diancamnya. Pada dana-dana ini yang dinikmati bukan lagi masyarakat tetapi oknum-oknum elite Amungme baik dana 1% maupun dana Trust Fun. Masyarakat tidak ada yang nikmati. Masyarakat tidak mengalami perubahan.

Tekanan PT. Freeport Indonesia;

 hal ini sangat dirasa ketika Freeport masuk di daerah Amungme Waa, Tsinga dan Arwanop, dimana tempat mereka bebas mencari makan, berburuh, menanam dan mencari kehidupan sekarang tidak sebebas itu lagi. Tempat mencari makan sudah menjadi wilayah kekuasaan Freeport, lahan untuk menanam sudah menjadi lahan konstruksi perusahaan, dari satu tempat ke tempat yang lain harus membawa surat jalan, untuk naik turun Timika harus dengan antrean dan melalui banyak check point. Hal ini sangat besar pengaruhnya terhadap kebebasan masyarakat Amungme di daerah dekat dengan operasional Freeport Indonesia.

Perang Suku;

perang suku sering sekali terjadi di Timika. Perang sering terjadi suku pendatang melawan Amungme (Asli). Tidak sedikit yang terbunuh. Tidak sedikit yang meninggal dunia setelah menderita luka panah. Masyarakat tersebut tidak mengenal perkembangan dunia modern sehingga tidak mudah sekali terlibat konflik kalaupun pemicu konflik merupakan hal-hal sepeleh. Kondisi labilitas masyarakat dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu yang mempunyai kepentingan di masyarakat tersebut sehingga kisruh dan konflik antar suku tak berujung. Para elite Amungme juga tidak pernah mengeluarkan satu pernyataan sikap dan larangan apapun ata kondisi ini. Maklum bahwa mereka ini tidak lagi netral tetapi mereka semua terikat kepentingan-kepentingan dengan kelompok2 kepentingan yang ada di daerah tersebut. Lembaga Musyawarah Masyarakat Amungme juga tidak pernah menempuh uapaya untuk menanggulangi terjadinya perang suku. Selain LEMASA pemerintah sebagai pengayom dan memiliki legalitas kuat untuk mengurus masyarakat tidak mengambil sikap tegas dan realistis. Kelihatannya seperti pembiaran.


Demikian Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Amungme Berasal dari Papua  , semoga informasi seputar Adat Istiadat Budaya Suku Amungme ini bermanfaat, jangan lupa share di google plus dan berkomentar dan berkunjung kembali ke www.senibudayawisata.com

Baca Juga Artikel


Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Amungme Berasal dari Papua Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Amungme Berasal dari Papua Reviewed by Unknown on 4:27 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.